Tiny Reportage: Embung Tambakboyo


Embung atau cekungan penampung (retention basin) adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau (Wikipedia). Nah, Tiny Reportage kali ini memberikan sangat sedikit informasi bagi kamu-kamu semua tentang salah satu embung yang ada di Yogyakarta, yaitu Embung Tambakboyo.

Embung Tambakboyo yang terletak di Condong Catur, Depok, Kec. Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini sebenarnya berada di tiga wilayah desa yaitu Condongcatur, Maguwo dan Wedomartani. Letak embung ini mungkin sedikit susah dicari, namun jika kamu-kamu semua sudah berada di wilayah Condongcatur bagian utara Ring Road, kamu-kamu semua tinggal bertanya kepada penduduk sekitar dan mereka akan menunjukan kemana langkahmu harus berjalan untuk menuju ke Embung Tambakboyo ini. Sebelum masuk lokasi embung ini, kamu-kamu semua akan disambut penjaga jalan masuk ke embung yang tergabung dalam P.E.T.A atau Pemuda Tambakboyo yang akan memberikan karcis tanda masuk. Jika kamu-kamu semua masuk dengan mengendarai kendaraan bermotor roda dua, kamu-kamu semua harus membayar retribusi sejumlah Rp2000,- dan jika kamu-kamu semua mengendarai kendaraan bermotor roda empat maka biaya retribusinya adalah Rp3000,-. Tapi Saya pribadi belum tahu jumlah biaya yang harus dibayarkan jika masuk tanpa mengendarai kendaraan bermotor (jalan kaki atau sepeda), mungkin kamu-kamu semua bisa mencobanya.

Karcis tanda masuk ke Embung Tambakboyo
Selesai dengan urusan retribusi yang menghabiskan waktu beberapa detik itu, kamu-kamu semua akan melewati jalan yang menurun yang di ujung jalan yang menurun itu kamu-kamu semua akan menjumpai sebuah embung yang luas dan luar biasa. Saran Saya, jika kamu-kamu semua mengendarain kendaraan apapun, kelilingilah dahulu embung tambakboyo ini karena sensasinya luar biasa (berdasarkan pengalaman saya, kalau kamu-kamu semua tidak merasakannya, berarti saya hanya berlebihan, hehe). Setelah selesai mengelilingi embung itu, baru carilah spot yang cocok untuk kamu-kamu semua agar bisa menikmati nuansa embung dan pemandangannya. Embung ini dibatasi dengan pagar besi di sekelilingnya untuk keamanan dan juga terdapat jalan yang mengelilinginya. Hati-hati jika mengendarai kendaraan bermotor di jalan ini. Gunakan kecepatan rendah dan santai saat berkendara dengan kendaraan bermotor karena sepanjang jalan ini sering digunakan untuk jalan-jalan, jogging dan bersepeda ataupun olahraga lainnya. Awasi juga dengan ketat jika kamu-kamu semua mengajak anak kecil.

Waktu yang tepat untuk menikmati nuansa Embung Tambakboyo ini adalah di pagi hari dan di sore hari. Karena jika siang hari pasti matahari akan terasa menyengat dan panas. Pagi hari dan sore hari adalah waktu yang tepat karena sinar matahari masih ramah dan tidak terlalu menyengat. Udara saat pagi dan sore hari juga akan terasa lebih nyaman dan menyejukan. Apalagi jika kamu-kamu semua dapat bertemu dengan sunrise di pagi hari atau sunset di sore hari, itu akan menambah suasana di embung menjadi sedikit romantis.

Namun yang sedikit disayangkan dari tempat ini adalah masih terdapat sampah-sampah plastik, bungkus makanan, minuman dan lain lain di beberapa titik sekitaran embung. Sebenarnya di beberapa tempat di sekitar embung juga terdapat tempat sampah yang terbuat dari bis sumur, namun keberadaannya tertutupi dengan adanya tanaman dan rumput liar yang tumbuh di sekelilingnya. Bagi kamu-kamu semua yang berkunjung di tempat ini, mohon jangan meninggalkan sampah dalam bentuk apapun demi kelestarian tempat ini.

Berikut ini video Tiny Reportage tentang Embung Tambakboyo ini: