Bad Thing about Indonesian Sinetron


Saya bukan penikmat sinetron, Saya juga tidak sering melihat sinetron, dan Saya juga tidak menyarankan untuk menonton sinetron. Karena apa? Karena banyak hal yang "gak banget (alay mode ON)" menurut Saya tentang sinetron, khususnya sinetron stripping. Yes, I don't watch sinetron, but only to observe. And the following is my observation of the sinetron, Bad Thing(k) about Indonesian Sinetron. How bad? This bad. Check this out!



  1. The Story of Rebutan
  2. Beberapa (kebanyakan) sinetron saat ini, inti ceritanya sama. Walau judulnya berbeda-beda; Cinta Fikri, Aliman, Dewo, Kuli yang Tertukar, Liontin, Gelang, Kalung, Cincin, Suweng, dll. Namun, inti ceritanya, sekali lagi, sama, yaitu tentang Rebutan, what else? Ya sinetron itu isinya tentang rebutan, entah itu rebutan harta, jabatan, pacar, istri, dan masih banyak lagi gitu deh. Jadinya malah seperti tinggal di hutan. Kenapa tidak mencari inti cerita lain yang bisa berguna dan mendidik? Indonesia ini kan kaya sekali, beragam, dari situ bisa diambil cerita yang lebih bermoral dan mendidik, bukan yang meracuni.
  3. L.E.B.A.Y (How my spell?)
  4. Nah, sinetron itu dari segi yang paling kecil nyampe yang paling guede itu semuanya dibikin berlebihan a.k.a LEBAY kk :D. Aktingnya; contoh peran antagonis yang harus melotot-melotot kayak orang nahan pedes sambil sakit perut pengen B.A.B. Itu contoh yang paling kongkrit, jeng. Apalagi ceritanya, yang rebutan sampai culik-menculik, bunuh-bunuhan, racun-racunan, bakar rumah, bakar jagung, bakar ikan, dan bakar semuanya #eh :D. Padahal perannya aja biasa, tapi dibikin sejahat mungkin sehingga bisa melakukan semua hal yang tak terpuji tersebut (how 'bout that?!)
  5. Berbelit-belit (pelit kali ya?! :p)
  6. Kebanyakan sinetron itu tayang dengan durasi hampir 1 jam, ada juga yang lebih (belum kalo ditambah sama iklannya, nah loo). Tapi kalo diamati dengan seksama, dari satu episode sinetron yang tayang 1 jam itu, yang bener-bener cerita itu paling sekitar 30 menit. Kenapa? Karena banyak adegan yang tidak perlu (tujuannya untuk memperlama durasi dan memperpanjang episode biar dapet penghargaan MUDI kayak Cinta Fikri, rekor episode terbanyak, WT*) seperti adegan kaget ala sinetron. Jadi pas ada adegan yang mengagetkan, para pemain di-shot zoom in dengan backsound yang berbunyi "jeng-jeng...jeng-jeng...jeng-jeng", dan gak cuma satu adegan aja, tapi banyak adegan ada gituannya. Apalagi itu pemainnya harus kaget dan di-shot satu persatu. Jadi, kalo di satu adegan ada 10 orang maka "jeng-jeng...jeng-jeng...jeng-jeng"-nya ya 10 kali. What the bla... bla... bla... .
  7. Aktor dan Aktris
  8. This soap opera called Sinema Elektronik is always use the beautiful thing like pretty actress and handsome actor (Anybody else?). Yup, mereka memang gemar sekali menggunakan aktor dan aktris yang ganteng dan canteeek, ya apalagi kalo bukan untuk menarik banyak penonton dan menghipnotis mereka. Tidak realistis menurut Saya, karena gak menampilkan sesuatu yang nyata (ya iyalah.. hellooowww). Maksud Saya, orang itu kan beragam, jadi ya tunjukin keberagaman itu. Seperti masakan yang rasanya itu gak cuma manis doank, tapi ada asinnya, gurih, pahit dikit, tapi, itu semua membuat masakan itu terasa spesial dan seru di lidah (ya gak?). Apalagi aktor dan aktrisnya itu wajahnya selalu tampil cerah dengan make-up yang bersih, peran apapun pasti bersih-bersih semua mukanya, mau yang miskin, preman, pemulung, itu semua pake make-up yang bersih, cling! Uopo kuwi?!
  9. An Annoying Backsound
  10. Salut ya pada pembuat sinetron yang memperhatikan usaha entertainer kecil yaitu orkes organ tunggal untuk menggarap semua backsound yang mengiringi dialog karakter dalam sinetron (prok... prok... prok... tepuk Pramuka!). Salut untuk karya backsoundnya ya :), tapi gak salut untuk penempatkan backsound itu di sepanjang sinetron. Haduw, kalo liat sinetron itu, kuping rasanya mau pecah, udah dialognya marah-marah mulu, backsound-nya ganggu banget di telinga. Apa sih tujuan backsound-nya itu? Membawa suasana? Saya rasa itu tidak berhasil di sinetron. Apalagi, backsound-nya itu sangat keras, sampai kadang dialog aktornya kalah dengan backsound-nya. Mungkin pembuat sinetron itu lupa konsep backsound, sini Saya jelaskan; back itu artinya belakang, sound artinya suara, jadi backsoud itu artinya adalah suara yang ada di belakang. Nah, kalo suara terdengar terlalu keras dan menjadi yang utama itu namanya frontsound (???), mumet tha... padha. Jadi, sebaiknya pembuat sinetron itu harus lebih bijak menggunakan backsound tersebut.
  11. Static Camera
  12. If you watch a sinetron, you will see a static picture. Where is the aesthetic? Ini bagian yang paling Saya gak suka (sebenernya semua seehh) yaitu, sinetron tidak memainkan kamera dengan baik (tidak dimainin sama sekali). Hal ini yang bikin Saya bosen liat sinetron, bikin pusing. Kalo ada 2 orang berdialog, itu kan jadinya ganti screen terus, si A.. si B... si A... si B... pooosseeengggg! Gak nyeni sama sekali (memang bukan seni ya tujuannya?). Aktornya tuh seperti ngomong sendiri di depan kamera, kalo kayak gitu, meding aktornya bikin video blog aja kayak Saya (visit: http://www.youtube.com/johnwise37, promosi dikit v^_^). Apa gunanya kru kameranya coba? pake tripod aja bisa tuh. hu... hu... hu... sedih.
  13. Ngomong ma Tembok
  14. Satu hal lagi tentang aktornya nih, sehubungan dengan Static Camera tadi. Nah, aktornya ini gak sepenuhnya ngomong sama lawan mainnya, tapi cuma ngobrol sendiri sama tembok. Ya, mungkin dasar mukanya kayak tembok (v^.^ piss lho mas, mba). Ini untuk efisiensi waktu take-nya sih ya, namanya juga sinetron itu stripping. Nah, jadi kalo ada aktor ato aktrisnya yang telat, kan bisa ambil gambar satu-satu dulu, nah, dengan cara itu shooting-nya jadi cepet selesai dan cepet dapet duit (Woops!).
Nah, itulah beberapa hal yang Saya gak suka dari sinetron. Saya menulis ini bukan semata-mata ingin menjelek-jelekan sinetron lho, sebab ada juga sinetron yang bagus (yang bukan stripping tentunya). Tapi hanya ingin memperdengarkan suara hati orang-orang yang mempunyai perasaan yang sama dengan Saya mengenai sinetron. Dan juga, Saya sangat mengapresiasi sebaik-baiknya kepada semua pelaku sinetron. Harapan Saya itu, hanya ingin sinetron yang aseli Indonesia itu menjadi lebih berkualitas dan dapat berguna bagi penikmatnya.

Pesan Saya untuk pelaku sinetron, bijaklah untuk membuat tontonan untuk masyarakat Indonesia ini. Bikin yang berkualitas dan mendidik juga mungkin. Jadi, penonton itu bisa terhibur dan terdidik juga menjadi lebih baik dan dampaknya akan baik juga untuk negara kita, Indonesia.

Nah, kalo untuk penikmatnya, bijaklah dalam menonton dan memilih tontonan yang bermutu. Selalu ambil pelajaran positif dari setiap hal yang ditonton dan buang hal-hal yang negatif. Sehingga, hidup kita juga bisa lebih berkualitas lagi.